Minggu, 18 November 2018

Dongeng Anak dari Alor


Legenda Pohon Keramat Usman Barkat
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang anak yang sangat sakti bernama Usman Barkat. Ia hidup berdua saja bersama ayahnya yang bernama Muhammad Aludin Syah. Ayahnya seorang yang bijaksana dan sangat disegani oleh masyarakat setempat. Jika ada masalah yang dihadapi warga, mereka akan pergi menemui ayah Usman Barkat untuk meminta pendapat dalam menghadapi persoalan mereka. Ayah Usman Barkat juga seorang yang sangat sakti. Dengan kesaktiannya dia selalu menolong orang-orang yang menderita dan yang tertimpa kemalangan berupa sakit. Meskipun dia memilik kesaktian dia tetap saja rendah hati karena perilaku demikian semua orang sangat mengasihi Muhhamad Aludin Syah dan anaknnya Usman Barkat.
Suatu hari karena menyadari bahwa dirinya sudah sangat tua ia memanggil Usman Barkat untuk diberikan petuah dan dengan maksud memberikan kesaktiannya pada anaknya Usman Barkat.
“Usman, ke sini sebentar nak“, kata ayahnya dari atas bale-bale[1]. Usman berjalan mendekati ayahnya yang sudah tua dan duduk bersila di bawah bale-bale. Sambil menatap lekat-lekat ayahnya berkata lagi “Usman Anakku, waktuku tinggal sesaat lagi, taruhlah tanganmu di atas tanganku dan terimalah segala kesaktian yang kumiliki. Pergunakanlah itu untuk menolong sesama, jangan sombong dan serakah sebab itu akan membuat kesaktian ini tak akan lagi berguna. Dengan menahan sedih yang mendalam Usman melakukan apa yang diperintahkan ayahnya. Tiba-tiba Usman merasakan tubuhnya gemetar dengan hebat, asap putih menutupi ruangan itu dan ia merasakan tubuhnya sangat panas sekali. Rupanya kesaktian dari ayahnya sudah berpindah kepadanya. Sekejab saja ruangan itu menjadi sepi dan sangat tenang sekali. Secepat kilat pula Usman melihat ke atas bale-bale, ayahnya sudah menutup mata. Usman menangis memeluk ayahnya. Usman sangat kehilangan ayahnya. Bagi Usman, ayahnya tidak saja sekedar seorang ayah melainkan  sahabat terbaik yang pernah ia miliki. Banyak hal yang sudah ayahnya ajarkan padanya, banyak kenangan manis bersama ayahnya.
Semua kenangan manis bersama ayahnya berputar-putar kembali dalam ingatan Usman, semuanya tidak pernah tergantikan dengan cara apapun lagi.  Namun Usman menyadari bahwa ia harus segera bangkit dari rasa kehilangannya. Dia harus berjuang agar bisa menjadi anak yang membanggakan almarhum ayahnya.  Sepeninggal ayahnya Muhammad Aludin Syah, Usman tinggal seorang diri di sebuah desa bernama Ombay.
Usman Barkat sama seperti mendiang ayahnya ia sangat disukai oleh masyarakat setempat oleh karena kebaikan hatinya yang selalu menolong orang-orang. Suatu hari, Usman Barkat seperti kebanyakan anak lainnya, dia senang sekali bermain di Pantai. Saat asyik bermain bersama teman-temannya, mendadak dia merasakan sakit perut yang luar biasa. Akhirnya iapun buang air besar di Pantai, ketika itu ada dua orang yang berasal dari pulau Jawa yang naik perahu bernama Husein dan Hasan menuju ke desa Ombay, mereka berdua melihat Usman Barkat tidak melakukan istinjak (bersih-bersih) setelah buang air besar. Mereka memandang perlakuan Usman Barkat itu tidak sesuai dengan ajaran agama Islam yang mereka anut. Berkatalah Husein kepada Hasan “Mari kita hampiri anak itu dan kita sampaikan kekeliruannya”, dengan penuh amarah mereka berdua mendekati Usman Barkat dan berkata “ Hei nak, sadarkah kamu dengan yang barusan kamu lakukan“? tentu saja Usman tidak menyadarinya sebab yang ia lakukan sudah menjadi kebiasaan di desa mereka. Akan tetapi Husein dan Hasan semakin marah karena melihat Usman hanya diam saja. Dalam kemarahan kedua orang Jawa itu ingin memberi pelajaran kepadanya. Usman Barkat berkata “Bapak-bapak, sesungguhnya saya tidak mengerti apa kesalahan saya. Dari tadi kalian berdua hanya penuh dengan kemarahan tanpa menjelaskannya. Jika yang saya lakukan salah maka maafkan saya dan beritahukanlah apa yang harus saya lakukan” kata Usman Barkat kepada ke dua orang Jawa itu. Akan tetapi mereka menantang Usman Barkat untuk menunjukkan kehebatannya. Mereka bertiga akhirnya membuat sebuah perjanjian yakni :Jika Usman menang maka kedua orang Jawa itu harus tinggal di desa Ombay dan membangun desa itu dengan segala hal baik yang mereka ketahui tetapi jika Usman Barkat kalah maka ia harus pergi dan tinggal di Jawa. 
Keesokan harinya seluruh masyarakat desa Ombay berkumpul untuk melihat pertandingan antara Usman Barkat dan dua orang yang yang berasal dari pulau Jawa itu. Usman Barkatpun  telah bersiap untuk bertanding melawan kedua orang Jawa tersebut. Tidak lupa Usman Barkat memohon restu mendiang ayahnya dan para leluhur untuk menolong dia.  Maka pertandinganpun dimulai, Usman Barkat menunjukkan kehebatannya dengan membelah perutnya dengan jari tangan kanannya sambil membaca kalimat syahadat, dia mengeluarkan seluruh isi perutnya. Suasana mendadak begitu hening, para lelaki di desa itu bergidik ketakutan dan sambil berbisik seorang terhadap yang lain mereka berkata “apakah setelah yang ia lakukan ini ia masih hidup? Lihat! apa yang ia lakukan lagi? Teriak seorang laki-laki di seberang sana. Sontak semua mata tertuju pada Usman Barkat. Usman mengambil isi perut yang ia sudah keluarkan secara perlahan-lahan tadi lalu membawanya untuk dicuci di pantai. Semua orang yang melihatnya sangat terkejut, Lantas terdengar suara sorak-sorai orang-orang yang memuji akan kehebatan Usman Barkat. Kemudian mereka semua memandang kepada dua orang Jawa yakni Husein dan Hasan untuk melihat apa yang hendak dilakukan keduanya. Mereka berdua mengambil lima buah parang dan mengikatnya dengan maksud mencelupkannya ke dalam laut supaya terapung namun sungguh disayangkan, kehebatan mereka tidak bisa disamakan dengan kehebatan Usman Barkat, parang-parang mereka justru tenggelam.  Orang-orang serentak bertepuk tangan ke arah Usman Barkat. Mereka sangat bahagia untuk kemenangannya. Bukan saja karena kesaktiannya akan tetapi karena ketenangannya. Dia mau untuk belajar menerima segala hal yang baik bagi diri dan desa Ombay.
Perlahan-lahan Usman Barkat berjalan mendekati kedua orang Jawa itu, dan berkata “sesuai perjanjian kita sebelumnya, jika aku menang maka kalian berdua harus tinggal di sini untuk membangun desa ini dan mengajari kami apa yang harus kami lakukan sesuai dengan kepercayaan yang di anut. Sebab aku melihat betapa banyak hal baik yang kalian miliki” sambil memegang tangan kedua orang itu, Usman Barkat berkata lagi “lihat! di seberang timur, pergilah dan bangunlah rumah untuk kalian dan menetaplah bersama kami di sini”. Kedua orang Jawa itu terdiam sesaat dan mengikuti perintah Usman Barkat untuk membangun desa yang sekarang bernama Desa Ombay.
Beberapa saat kemudian, Usman Barkat meninggal. Nisannya yang terbuat dari kayu tumbuh menjadi pohon yang sangat besar dan rindang yang sampai sekarang di sebut Pohon Keramat Usman Barkat. Masyarakat desa Ombay di Pulau Pantar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur percaya bahwa bila ada orang yang memetik daun atau batangnya, maka ia akan terhindar dari musim hujan. Oleh karena itu, jika ada pesta atau hajatan seperti sunatan, pernikahan bahkan perayaan lainnya mereka  akan memetik daun atau batang dari Pohon Keramat Usman Barkat agar terhindar dari datangnya hujan. Dan sebagai ungkapan syukur karena terhindar dari hujan setelah selesai perayaan mereka akan mempersembahkan korban sesajen berupa penyembelihan binatang berupa kambing atau ayam yang darahnya ditetesi di sekitar pohon Keramat tersebut.


Pesan Moral :
Rendah hati dan suka menolong orang lain membuat kita hidup dalam damai dan cinta.





[1] Tempat tidur yang terbuat dari pelepah bambu atau kelapa. Bale-bale ini masih digunakan hingga sekarang di Alor-NTT.
(Diceritakan kembali oleh Nina Saingo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar