Legenda Pohon Keramat Usman Barkat
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang anak yang
sangat sakti bernama Usman Barkat. Ia hidup berdua saja bersama ayahnya yang
bernama Muhammad Aludin Syah. Ayahnya seorang yang bijaksana dan sangat
disegani oleh masyarakat setempat. Jika ada masalah yang dihadapi warga, mereka
akan pergi menemui ayah Usman Barkat untuk meminta pendapat dalam menghadapi
persoalan mereka. Ayah Usman Barkat juga seorang yang sangat sakti. Dengan
kesaktiannya dia selalu menolong orang-orang yang menderita dan yang tertimpa
kemalangan berupa sakit. Meskipun dia memilik kesaktian dia tetap saja rendah
hati karena perilaku demikian semua orang sangat mengasihi Muhhamad Aludin Syah
dan anaknnya Usman Barkat.
Suatu hari karena menyadari bahwa dirinya sudah
sangat tua ia memanggil Usman Barkat untuk diberikan petuah dan dengan maksud
memberikan kesaktiannya pada anaknya Usman Barkat.
“Usman, ke sini sebentar nak“, kata ayahnya dari
atas bale-bale[1].
Usman berjalan mendekati ayahnya yang sudah tua dan duduk bersila di bawah
bale-bale. Sambil menatap lekat-lekat ayahnya berkata lagi “Usman Anakku,
waktuku tinggal sesaat lagi, taruhlah tanganmu di atas tanganku dan terimalah
segala kesaktian yang kumiliki. Pergunakanlah itu untuk menolong sesama, jangan
sombong dan serakah sebab itu akan membuat kesaktian ini tak akan lagi berguna.
Dengan menahan sedih yang mendalam Usman melakukan apa yang diperintahkan
ayahnya. Tiba-tiba Usman merasakan tubuhnya gemetar dengan hebat, asap putih
menutupi ruangan itu dan ia merasakan tubuhnya sangat panas sekali. Rupanya
kesaktian dari ayahnya sudah berpindah kepadanya. Sekejab saja ruangan itu
menjadi sepi dan sangat tenang sekali. Secepat kilat pula Usman melihat ke atas
bale-bale, ayahnya sudah menutup mata. Usman menangis memeluk ayahnya. Usman
sangat kehilangan ayahnya. Bagi Usman, ayahnya tidak saja sekedar seorang ayah
melainkan sahabat terbaik yang pernah ia
miliki. Banyak hal yang sudah ayahnya ajarkan padanya, banyak kenangan manis
bersama ayahnya.
Semua kenangan manis bersama ayahnya
berputar-putar kembali dalam ingatan Usman, semuanya tidak pernah tergantikan
dengan cara apapun lagi. Namun Usman
menyadari bahwa ia harus segera bangkit dari rasa kehilangannya. Dia harus
berjuang agar bisa menjadi anak yang membanggakan almarhum ayahnya. Sepeninggal ayahnya Muhammad Aludin Syah,
Usman tinggal seorang diri di sebuah desa bernama Ombay.
Usman Barkat sama seperti mendiang ayahnya ia
sangat disukai oleh masyarakat setempat oleh karena kebaikan hatinya yang
selalu menolong orang-orang. Suatu hari, Usman Barkat seperti kebanyakan anak
lainnya, dia senang sekali bermain di Pantai. Saat asyik bermain bersama
teman-temannya, mendadak dia merasakan sakit perut yang luar biasa. Akhirnya
iapun buang air besar di Pantai, ketika itu ada dua orang yang berasal dari
pulau Jawa yang naik perahu bernama Husein dan Hasan menuju ke desa Ombay,
mereka berdua melihat Usman Barkat tidak melakukan istinjak (bersih-bersih)
setelah buang air besar. Mereka memandang perlakuan Usman Barkat itu tidak
sesuai dengan ajaran agama Islam yang mereka anut. Berkatalah Husein kepada
Hasan “Mari kita hampiri anak itu dan kita sampaikan kekeliruannya”, dengan
penuh amarah mereka berdua mendekati Usman Barkat dan berkata “ Hei nak,
sadarkah kamu dengan yang barusan kamu lakukan“? tentu saja Usman tidak
menyadarinya sebab yang ia lakukan sudah menjadi kebiasaan di desa mereka. Akan
tetapi Husein dan Hasan semakin marah karena melihat Usman hanya diam saja.
Dalam kemarahan kedua orang Jawa itu ingin memberi pelajaran kepadanya. Usman
Barkat berkata “Bapak-bapak, sesungguhnya saya tidak mengerti apa kesalahan
saya. Dari tadi kalian berdua hanya penuh dengan kemarahan tanpa
menjelaskannya. Jika yang saya lakukan salah maka maafkan saya dan
beritahukanlah apa yang harus saya lakukan” kata Usman Barkat kepada ke dua
orang Jawa itu. Akan tetapi mereka menantang Usman Barkat untuk menunjukkan
kehebatannya. Mereka bertiga akhirnya membuat sebuah perjanjian yakni :Jika
Usman menang maka kedua orang Jawa itu harus tinggal di desa Ombay dan
membangun desa itu dengan segala hal baik yang mereka ketahui tetapi jika Usman
Barkat kalah maka ia harus pergi dan tinggal di Jawa.
Keesokan harinya seluruh masyarakat desa Ombay
berkumpul untuk melihat pertandingan antara Usman Barkat dan dua orang yang
yang berasal dari pulau Jawa itu. Usman Barkatpun telah bersiap untuk bertanding melawan kedua
orang Jawa tersebut. Tidak lupa Usman Barkat memohon restu mendiang ayahnya dan
para leluhur untuk menolong dia. Maka
pertandinganpun dimulai, Usman Barkat menunjukkan kehebatannya dengan membelah
perutnya dengan jari tangan kanannya sambil membaca kalimat syahadat, dia
mengeluarkan seluruh isi perutnya. Suasana mendadak begitu hening, para lelaki
di desa itu bergidik ketakutan dan sambil berbisik seorang terhadap yang lain
mereka berkata “apakah setelah yang ia lakukan ini ia masih hidup? Lihat! apa
yang ia lakukan lagi? Teriak seorang laki-laki di seberang sana. Sontak semua
mata tertuju pada Usman Barkat. Usman mengambil isi perut yang ia sudah
keluarkan secara perlahan-lahan tadi lalu membawanya untuk dicuci di pantai.
Semua orang yang melihatnya sangat terkejut, Lantas terdengar suara sorak-sorai
orang-orang yang memuji akan kehebatan Usman Barkat. Kemudian
mereka semua memandang kepada dua orang Jawa yakni Husein dan Hasan untuk
melihat apa yang hendak dilakukan keduanya. Mereka berdua mengambil lima buah
parang dan mengikatnya dengan maksud mencelupkannya ke dalam laut supaya terapung
namun sungguh disayangkan, kehebatan mereka tidak bisa disamakan dengan
kehebatan Usman Barkat, parang-parang mereka justru tenggelam. Orang-orang serentak bertepuk tangan ke arah
Usman Barkat. Mereka sangat bahagia untuk kemenangannya. Bukan saja karena
kesaktiannya akan tetapi karena ketenangannya. Dia mau untuk belajar menerima
segala hal yang baik bagi diri dan desa Ombay.
Perlahan-lahan Usman Barkat berjalan mendekati
kedua orang Jawa itu, dan berkata “sesuai perjanjian kita sebelumnya, jika aku menang
maka kalian berdua harus tinggal di sini untuk membangun desa ini dan mengajari
kami apa yang harus kami lakukan sesuai dengan kepercayaan yang di anut. Sebab
aku melihat betapa banyak hal baik yang kalian miliki” sambil memegang tangan
kedua orang itu, Usman Barkat berkata lagi “lihat! di seberang timur, pergilah
dan bangunlah rumah untuk kalian dan menetaplah bersama kami di sini”. Kedua
orang Jawa itu terdiam sesaat dan mengikuti perintah Usman Barkat untuk membangun
desa yang sekarang bernama Desa Ombay.
Beberapa
saat kemudian, Usman Barkat meninggal. Nisannya yang terbuat dari kayu tumbuh
menjadi pohon yang sangat besar dan rindang yang sampai sekarang di sebut Pohon
Keramat Usman Barkat. Masyarakat desa Ombay di Pulau Pantar, Kabupaten Alor,
Nusa Tenggara Timur percaya bahwa bila ada orang yang memetik daun atau
batangnya, maka ia akan terhindar dari musim hujan. Oleh karena itu, jika ada
pesta atau hajatan seperti sunatan, pernikahan bahkan perayaan lainnya mereka akan memetik daun atau batang dari Pohon
Keramat Usman Barkat agar terhindar dari datangnya hujan. Dan sebagai ungkapan
syukur karena terhindar dari hujan setelah selesai perayaan mereka akan
mempersembahkan korban sesajen berupa penyembelihan binatang berupa kambing
atau ayam yang darahnya ditetesi di sekitar pohon Keramat tersebut.
Pesan
Moral :
Rendah
hati dan suka menolong orang lain membuat kita hidup dalam damai dan cinta.
[1] Tempat
tidur yang terbuat dari pelepah bambu atau kelapa. Bale-bale ini masih
digunakan hingga sekarang di Alor-NTT.